 |
Wednesday, July 26, 2006
Definisi dan Sejarah Jurnalisme
Jurnalisme adalah kegiatan mengumpulkan, menulis, mengedit, menerbitkan
berita melalui koran dan majalah atau memancarkan berita melalui
radio dan televisi.
Jurnalisme merupakan bagian dari komunikasi massa secara luas.
Kendati pengertian jurnalisme kini mencakup medium yang sangat luas
(termasuk juga radio, televisi bahkan bioskop), medium dasar dari
jurnalisme adalah koran alias suratkabar. Wartawan radio dan
televisi umumnya mengadopsi metode dan prinsip jurnalisme
tradisional pada koran dan majalah.
Prototip awal dari koran masa kini adalah pengumuman-pengumuman resmi yang dikenal pada Zaman
Romawi sebagai Acta Diurna atau Gazzetta. Medium perkabaran serupa juga dikenal di Cina sebagai
Tching-pao atau "Kabar dari Istana" yang muncul setiap hari sekitar
Abad ke-8 M. Di Romawi maupun Cina itu, pengumuman biasanya disebarkan
dengan medium tulisan tangan antara pribadi atau dengan mulut.
Revolusi persuratkabaran dipicu penemuan mesin cetak oleh Johan
Guttenberg pada 1450. Koran cetakan yang berbentuk seperti sekarang ini
muncul pertama kalinya pada 1457 di Nurenberg, Jerman. Salah satu
peristiwa besar yang pertama kali diberitakan secara luas di
suratkabar adalah pengumuman hasil ekspedisi
Christoper Columbus ke Benua Amerika pada 1493.
Pada Abad ke-17, di Inggris kaum bangsawan umumnya memiliki
penulis-penulis yang membuat berita untuk kepentingan sang bangsawan.
Para penulis itu membutuhkan suplai berita. Organisasi pemasok berita
(sindikat wartawan atau penulis) bermunculan bersama maraknya jumlah
koran yang diterbitkan. Pada saat yang sama koran-koran eksperimental,
yang bukan berasal dari kaum bangsawan mulai pula diterbitkan pada Abad
ke-17 itu, terutama di Prancis.
Pada Abad ke-18, jurnalisme lebih merupakan bisnis dan alat politik
ketimbang sebuah profesi. Komentar-komentar tentang politik, misalnya,
sudah bermunculan pada masa ini. Demikian pula ketrampilan
desain/perwajahan mulai berkembang dengan kian majunya teknik
percetakan.
Perkembangan awal jurnalisme ini juga mulai diwarnai dengan
perjuangan panjang kebebasan pers – pergulatan abadi hingga kini
antara wartawan dan penguasa. Pers Amerika dan Eropa berhasil
menyingkirkan batu-batu sandungan sensorsip pada akhir Abad
ke-18, dan memasuki era jurnalisme modern seperti yang kita kenal
sekarang.
Perkembangan lebih lanjut dalam percetakan – penemuan pulp (bubur
kertas), mesin-mesin percetakan baru – dan teknologi lain
(seperti telpon) membuat proses produksi koran kian cepat kian
cepat, murah
dan massal.
Sampai dengan awal Abad ke-19, koran tak lebih dari sekadar
perpanjangan tangan dari pemerintah atau partai politik.
Perceraian antara jurnalisme dan politik terjadi pada sekitar
1825-an, sehingga wajah jurnalisme sendiri menjadi lebih jelas:
independen dan berwibawa. Sejumlah jurnalis yang muncul pada abad itu
bahkan lebih berpengaruh ketimbang tokoh-tokoh politik atau
pemerintahan. Dan jadilah jurnalisme sebagai bentuk profesi yang
mandiri. Lebih jauh, jurnalisme juga muncul sebagai cabang bisnis baru
yang makmur. Pemodal-pemodal basar meramalkan bisnis ini dalam
bentuk investasi, pencaplokan dan merger.
Perkembangan jurnalisme di Indonesia boleh dikata merupakan replika dari seluruh perkembangan tadi.
Bermula pada Abad ke-19 (lewat tokoh seperti Tirta Adisuryo), memasuki
Abad ke-20 sebagai pers perjuangan (perpanjangan tangan politik) hingga
1965-an. Tapi, sejak Orde Baru koran menjadi lebih independen –
bercerai dengan politik. Dan perkembangannya sebagai lembaga bisnis
menjadi-jadi pada dasawarsa 1980-an. Seperti di banyak negara
maju, koran Indonesia mulai menjadi perusahaan pencetak laba
sekaligus lembaga quasi publik.
Untuk memahami sistem dan prinsip kerja jurnalisme besar, mungkin kita bisa melihat miniaturnya:
penerbitan majalah dinding atau pers kampus. Di situ Anda mengumpulkan bahan, menulis, mengedit dan
menerbitkannya (menulis dengan tangan, mencetaknya dengan mesin
stensil, atau yang mutakhir memanfaatkan computer desktop publishing).
Tipikal organisasi jurnalistik adalah sebagai berikut, (semuanya
disebut wartawan atau jurnalis, tapi masing-masing memiliki jenjang):
- Reporter/fotografer: mengumpulkan bahan tulisan dari wawancara,
riset perpustakaan, investigasi. Seorang koordinator
reportase dibutuhkan untuk memimpin sejumlah reporter.
- Redaktur/penanggung jawab rubrik: menuliskan berita dari bahan- bahan
yang dikumpulkan reporter, memperkaya perspektif. Redaktur foto:
memilih foto yang layak diturunkan.
- Redaktur pelaksana: bertanggungjawab atas turunya naskah,
mengkaji ulang tulisan redaktur, memutuskan mana yang layak atau
tak layak diturunkan.
- Pemimpin redaksi: bertanggungjawab atas semua kegiatan jurnalistik itu.
Berbagai medium jurnalistik
Koran pada umumnya menekankan dirinya pada berita-berita mutakhir
(kemarin, tadi malam). Sementara radio menekankan berita lebih
mutakhir lagi (tadi pagi, beberapa jam lalu). Sedang majalah
menyajikan berita secara lebih mendalam, disertai analisis dan
background yang lebih luas. Suratkabar mungkin adalah
istilah yang salah kaprah. Sebab, tidak semua isinya adalah kabar
(berita) – disamping editorial, koran juga menerima sumbangan
dari luar tulisan- tulisan esai (dari para kolomnis) dan belum lagi
iklan. Koran juga seringkali menampilkan feature dengan tujuan
lebih menghibur ketimbang memberikan informasi.
Majalah juga bisa keseluruhan atau sebagian menyajikan berita. Sedang di radio atau televisi, seringkali
kabur batas antara berita dan hiburan. Jurnalisme film? Sinematografi
dan jurnalisme bersinggungan misalnya dalam film-film ilmu pengetahuan
dan film dokumenter.
Koran (seperti juga radio dan televisi) biasanya tidak hanya melaporkan berita (yang obyektif), tapi
menampilkan berita yang berasal dari investigas atau wawancara para
wartawannya. Dengan demikian, koran juga membuat berita. Lebih jauh,
koran juga seringkali menjadi sarana kampanye sebuah perjuangan yang
dipandang kayak. Seringkali susah memastikan dimana batas antara
reportase obyektif dengan kampanye tadi. Bagaimanapun, satu hal yang
perlu dicatat adalah upaya untuk mencapai reportase yang bisa dipercaya
tanpa mengesampingkan hak untuk memperjuangkan sesuatu yang dipandang
merupakan kepentingan publik.
Dalam suasana persaingan yang kian ketat, masing-masing bisnis media
massa (radio, TV, koran, majalah) berusaha menampilkan yang
terbaik. Tidak hanya dari kemasan fisik, tapi juda dalam
penggalian dan teknis penyajian beritanya. Koran atau media yang bagus,
laku dan berwibawa, mungkin dibentuk berkat resep-resep seperti
ini:
- sikap redaksional yang independen, fair, bebas dari sensor
- penggalian bahan secara lebih cepat,
tapi mendalam (melalui investigative dan interpretative reporting,
misalnya) dan bersifat menyingkap apa yang terjadi di balik sebuah
peristiwa (revealing)
- gaya penulisan yang segar (melalui neswfeature atau feature)
- kemasan (mutu cetak, perwajahan) yang memikat.
Dalam lapangan jurnalisme, persaingan tak hanya terjadi antar
suratkabar atau antara majalah, tapi juga antara majalah atau koran di
satu pihak dengan televisi di lain pihak. Namun, kendati televisi
memiliki jangkauan seketika dalam lingkup wilayah yang luas,
koran/majalah juga memiliki kelebihannya sendiri
dibanding media broabcast itu. Bahkan sebuah penelitian pada 1979 di AS menunjukkan bahwa 51%
responden lebih percaya kepada koran 38% yang percaya pada berita televisi.
Kelebihan lain koran:
1. secara teratur bisa menyajikan berita dan interpretasi secara mendalam.
2. relatif murah
3. mudah didokumentasikan (dikliping)
4. bisa dibaca sesuai kelonggaran waktu konsumennya
5. lebih jelas dalam menyajikan tabel statistik, peta, bagan, grafik dan medium gambar lainnya.
Jurnalisme sering dipandang sebagai sarana demokratisasi. Tapi,
jurnalis bukanlah dewa atau malaikat yang tanpa salah dan dosa.
Karenanya, mesti ada sesuatu yang bisa membatasinya. Dengan kata lain
wartawan memiliki hak dan kewajiban yang biasanya tercantum dalam kode
etik – suatu hal yang batas-batasnya terus diperdebatkan hingga
kini.
Posted at 11:05 am by D'husband
Word
Friday, February 03, 2006
Hei... mari ikut serta meramaikan kancah dunia maya, saya undang anda ke
http://heptarina.friendcircles.com/
Sampai ketemu disana
Posted at 06:03 am by D'husband
Word
Thursday, January 05, 2006
Posted at 11:12 am by D'husband
Word
Monday, January 02, 2006
BUTET
(sengaja, S yang tengah dibaca T)
Tahun 2006 ini, semua kartu prabayar musti diregister? Dan katanya klo dalam jangka waktu tertentu belum diregister juga (28 April 2006), kartunya bakal hangus. MIsalkan ini untuk kartu nomor XL (Lom tau untuk kartu yang lain gimana, klo ga salah semua operator menggunakan kode akses yang sama: 4444, dan kapan hari denger dari METRO TV, kayaknya sama saja dey)
Ketik: DAFTAR kirim ke 4444
Bakal dapet balesan:
Ketik: DAFTAR1#nama lkp#tmp lhr#tgl lhr(dd/mm/yyyy)#kelamin(L/P). Contoh: DAFTAR1#Deisi Heptarina#Plaju#21/09/1984#P
Setelah ngirim, bakal dapet balasan lagi:
Terimakasih, utk selanjutnya Ketik: DAFTAR2#no id#tipe id#alamat anda. Contoh: DAFTAR2#12345678910#KTP#Komperta Gunung Simping, Cilacap, Jawa tengah 12130
Setelah itu:
Saya menyatakan bahwa data yg saya berikan dan/atau saya ubah adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Jika setuju ketik OK dan kirim ke 4444
Lalu:
Terimakasih anda sudah terdaftar. PIN anda: ************** Simpan PIN ini sebagai bukti pendaftaran anda.
Registrasi ngga berhenti sampe di situ aja. Pelanggan juga diwajibkan mengirim fotokopi bukti identitas yang disertakan dalam registrasi, untuk menilai ke-VALID-an data yang telah dikirim (bisa SIM, KTP atawa Kartu Pelajar/Mahasiswa). Pengirimannya bisa diserahkan langsung ke gerai-gerai operator, atau dikirim melalui PT. Pos, ke alamat yang ditetapkan setiap operator. So, nggak bisa main-main nih. Gimana ya, kalau dicoba nama dan alamat bisa dipalsukan, ngga match ama KTP? Kayaknya khan masih diangan, kalau HP kita bisa ngerespon tingkah iseng kita itu dengan tiba-tiba berbisik mesra, "MAAF, DATA YANG ANDA MASUKKAN TIDAK VALID!" 
UPS! Selamat Tahun baru, dan jangan lupa, … 28 April 2006
Posted at 01:04 pm by D'husband
Word
Tuesday, December 20, 2005
Ada yang punya analisa dan menyimpulkan bahwa kenaikan Harga BBM dapat
mengakibatkan Jumlah rakyat miskin turun..?! Kayak yang dibilang
LPEM-UI bhw adanya korelasi kenaikan BBM dengan penurunan rakyat miskin.
Kenaikan BBM sebesar 10% dapat menurunkan jumlah rakyat miskin
sampe 14%. Jadi,penurunan jumlah rakyat miskin ini bisa mencapai
100%, apabila kenaikan BBM tersebut mencapai 100%. Analisanya adalah
sbb :
Harga bbm naek - tadinya rakyat miskin yang naek bis, sekarang jadi
jalan kaki.. trus dijalan ketabrak metromini yg ngebut karena
nguber setoran gara2 bbm-nya naek) trus mati.. -->
RAKYAT MISKIN BERKURANG
Tadinya rakyat miskin makan sehari 1x.. trus jadi makan 1x tapi buat 3
hari (karena daya belinya turun).. lama2 mati kelaparan.. --> RAKYAT
MISKIN BERKURANG
Tadinya rakyat miskin yang pada sakit masih bisa beli obat generik..
trus BBM naik jadi nggak bisa beli lagi .. akhirnya mati..-->
RAKYAT MISKIN BERKURANG
Atau tadinya rakyat miskin yg sakit masih bisa ke puskesmas naik
angkot, sekarang cuma jalan kaki, trus ketabrak metromini, malah
mati di jalan..--> RAKYAT MISKIN BERKURANG
Posted at 09:11 am by D'husband
Word

Tiada seindah masa yang lalu Saat pertama kuberjumpa denganmu Tanpa terasa saling menyinta Dan ingin hidup bersama
Masa bercinta masa yang paling indah Walaupun penuh dengan penderitaan
Tiada seindah kisah cintaku Di akhir tahun di Bulan Desember Hal yang terindah dalam hidupku Yang tak dapat kulupakan
Tanpa terasa, sudah sampai pada penghujung tahun 2005. Yup Desember! Mendengar kata Desember, apa yang terlintas di benak anda? Apakah rinai hujan yang turun seharian, udara dingin yang mencekam ataukah ada memori khusus lainnya. Desember selalu saja menggoreskan kenangan yang barangkali sukar untuk dilupakan begitu saja. Bagi yang merayakan Natal, mungkin akan terkenang masa-masa kecil dulu sewaktu menunggu Natal tiba bersama-sama keluarga
Desember memang identik dengan hujan. Padannya akan kita temui rinai-rinai hujan beserta hembusan angin dingin menusuk tulang. Keunikan itulah yang juga banyak menginspirasi para musisi untuk mencipta lagu. Dari band legendaris Koes Plus sampai kelompok nu metal Linkin Park, semua bercerita tentang Desember. Memang, kenangan Desember tak selamanya manis, simak saja Desember Kelabu nya Yuni Shara atau Kenangan Desember nya Tetty Kadi. Lain cerita bukan?
Apapun kenangan di balik Bulan Desember, ada baiknya kita jadikan Bulan Desember sebagai bulan evaluasi diri kita selama setahun ini. Soal pengabdian kita, prestasi kita, sikap-sikap kita dan sebagainya. Semoga kita bukan golongan orang yang rugi
Berikut beberapa lagu yang bertema Desember: 1. Desember ~ Koes Plus 2. Desember Kelabu ~ Yuni Shara 3. Kenangan Desember ~ Tetty Kadi 4. My December ~ Linkin Park 5. December ~ Collective Soul
_____________________________
Pelangi membelah langit sore hari berlomba-lomba dengan senja yang selalu saja memaksa matahari membenamkan diri terpaku di kaki langit mendengar deru dan debu ombak ditemani angin yang menyisir di antara sela rambut camar pun bersahutan menyambut malam menantinya.. masih dengan rindu yang sempurna c)RDS
Posted at 05:34 am by D'husband
Word
Wednesday, May 25, 2005
Pul - pul
Ada untungnya, rumahku masih di Cilacap. InsyaAllah, aku bakalan dateng (sekalian pulang, githuuuu...) ke akad nikahnya mbak Rahma (senior-nya biRU) n bang Ferry Kisihandi.
Oh ya, kalo transportasi ke Cilacap dari Bogor, bisa naik Travel, bis, dan kereta. Kalo naik travel, paling enak Travel Diana, biayanya Rp 160.000 pp. Kantor pusatnya di Wr. Jambu, telp. 0251 - 335357. Naik travel lebih praktis dan nyaman, dan dijemput pula, sekitar jam 4 sore. perjalanan memakan waktu semalaman, jadi baru nyampe keesokan harinya, pagiiiiiiiiiii banget!
Naik kereta, harus ke gambir dulu, atau ke sta. Bogor pesen tiket, biayanya kira-kira sama dengan naik travel. Kereta Purwojaya berangkat pagi banget (pukul 06.30) dari Stasiun Gambir, dan sampe sekitar pukul 14.30 di sta.Gumilir.
Naik bis, ngeteng, lebih murah lagi, tapi capek n rawan copet. Dari baranang siang, ke term.Kp. Rambutan. dari sana, cari aja bis jurusan Purwokerto atau kalo mujur cilacap langsung. Dari Purwokerto naik bis jurusan Cilacap. Nyampe deh di terminal Cilacap, Jl. Gatot Subroto. Tapi, pilihan terakhir ini, aku juga belum pernah nyoba. jadi, Riskan ! Rien brangkat duuuong!!!! kan skalian pul - pul ...kan udah lama ngga pulang???
Posted at 01:47 am by D'husband
Word
Tuesday, May 10, 2005
Posted at 02:33 am by D'husband
Word
Saturday, April 09, 2005
Dari Prabumulih
Pagi ini, Ayahanda Beginner Subhan, sepupu jauh aku, meninggal dunia, pukul 6.15 Pagi di RS Pertamina Prabumulih. Innalillahi wa inaillaihi Rojiun...
Sesungguhnya segala sesuatu yang ada pada dunia ini akan kembali kepada-Nya. Beliau mendapatkan kehormatan mulia untuk menghadap-Nya lebih dahulu dari kita, semoga amal ibadahnya selama di dunia diterima disisi-Nya, diluaskan istana kuburnya, diampunkan segala dosa-dosanya, dilimpahkan Rahmat kepadanya dari Rob Yang Maha Pemberi Rahmat.
Amin yaa Robbal Alamin....
Posted at 11:24 am by D'husband
Word
Friday, April 08, 2005
Nambah beberapa Image... ada foto ibu, si kecil adikku tersayang, dan si manis Vivi... Senangnya ......

Posted at 01:28 pm by D'husband
Word
|
 |
|
|
 |
 |
Liku-liku kehidupan, semenjak dari Palembang, Cilacap, Bogor (sekali-kali ke Bandung), Semarang (mampir), dan barusan di Ancol, serta kemacetan dan kejenuhan Darmaga. Lelah menikmati "indah"-nya penelitian, setelah masa TK sampai SMA habis di Palembang, do'akan SPi di belakang namaku nangkring tahun ini, di kota hujan, Bogor. Biarkan hidup ini tetap nge-Jazz, jazz juga, jazz lagi, pokoknya jazz... pop, R n B, hip hop yang nge beat juga boleh... biar tetap stay cool, dan kalau udah parah, divariasikan dengan dangdutan pun .. boleh... sementara "email ada disini


Free Web Site Counter




|
 |
|
|